Plutoria #2 : Quarter Life Crisis


Pergi ke suatu tempat di sekitar bandara-waduk cengklik, kemana? ke kuburan nenek (di kenyataan kuburan aslinya tidak disitu).

Duduk di tengah kuburan sambil memandangi nisan-nisan, berpikir apakah di bawah nisan itu mereka sedang mendapat siksa kubur? Apakah nenek telah tidur tenang? Meninggalnya nenek ternyata terasa lebih berbekas dari perkiraan sebelumnya karena beliau seperti ibu keduaku--aku berpikir bagaimana besuk jika ibu benar-benar menyusul mereka? Apakah aku besuk benar-benar dapat bertemu mereka kembali? Apakah besuk aku benar-benar dapat ke surga? Apakah ke surga benar segampang itu?

Aku pulang bersama rombonganku, yakni 2-3 orang yang tak terlalu kukenal yang seperti seorang detektif polisi sedang mencari barang bukti di kuburan sepi. Berjalan pulang, sekelebat kenangan palsu nenekku berpadu bersama kenangan nyata sepupu jauh.

Seorang bapak-bapak dari salah satu rombongan tadi berjalan menyamakan langkahku di belakang. Aku menyerahkan sesuatu--lupa itu benda apa.

Saat keluar kuburan ada banyak sekali rombongan remaja tak dikenal di jalan, aku berencana menyusul rombonganku di depan sambil menyamakan kecepatan motor, naik ke topografi tanah curam berbatu. Aku akan kehilangan rombonganku, pikirannku berkata bahwa rombonganku di depan adalah teman-teman KKN-ku padahal jelas di kuburan tadi bukan mereka.

Ku kejar, melewati seperti pasar kaget yang dipenuhi pedagang makanan kecil. Tersendat saat akan keluar dari area parkiran dekat kuburan atau lokasi pasar kaget, padat penjual serta orang-orang. Jelas aku tertinggal rombongan. Tiba-tiba kompor salah satu pedagang rusak membuat api berkibar lebih besar dari semestinya, panik. Tiba-tiba hari menjadi gelap.

Tak yakin dapat pulang, apakah aku akan menginap di salah satu rumah penduduk disini? Aku merasa lagi-lagi akan menyulitkan rombongan teman-temanku yang sudah melesat duluan. Mereka pasti panik kebingungan tidak menemukanku di belakang motor mereka.

Aku melanjutkan perjalanan seperti di tengah kegelapan malam. Ke arah barat jalanan tengah sawah sepi tanpa lampu, seorang anak muncul mengejek meneriakiku mengakibatkan mataku tak fokus hingga akhirnya menabrak sebuah kelas. Aneh, sekolah hanya terdapat satu kelas. Tetap melewati sekolah itu dengan santai dan berat. Berat? Kayuhan-ku berat, entah sejak kapan tiba-tiba aku berganti kendaraan.

Terus mengayuh ke barat, malam menjadi terang lagi secara tiba-tiba. Bertemu perkampungan penduduk dengan beberapa kebun budidaya tanaman diantara rumah-rumahnya, terkejut karena masih mencoba mengenali lingkungan aku menabrak beberapa tanaman dan pernak-pernik halaman rumah penduduk. Seorang anak terkejut melihatku terjatuh dan langsung masuk ke rumahnya atau bangunan seperti gazebo. Terjatuh membuat pikiranku mengira ini adalah sebuah desa di dekat telaga Sarangan. Mengira aku menemui teman-teman KKN ku dulu di telaga itu kembali.

Harus melanjutkan perjalanan sebelum aku melewati hutan tengah gunung Lawu sendirian malam-malam. Berbelok ke selatan, jalanan menanjak. Di belakangku ada truk dan bus. Tempat ini ramai seperti jalanan di sekitar lokasi wisata. Klakson bus membuatku meminggir hingga berhenti di trotoar. Aku melihat toko-toko pernak-pernik warna-warni yang memanjakan mata. Rumah-rumah di sekitar jalanan ini juga mewah elegan seperti villa. 

Aku menghampiri salah satu halaman rumah yang terdapat bunga warna-warni, bertanya kepada salah ibu yang aku kira pemilik rumah itu. Lokasi tiba-tiba berubah menjadi toko pernak-pernik. Ibu itu menjadi penjual toko pernak-pernik.

Seingatku, entah mengapa aku bisa bertanya seperti ini, "Bu saya sudah lewat sini 2-3 kali buat main sama teman ke Telaga Sarangan. Saya lewat jalur barat dan teman-teman saya lewat jalur timur. Setiap lewat sini saya berpikir kok bunga ini cantik sekali. Apakah ini bunga asli buk?" Sebuah anggukan disertai senyuman singkat mengonfirmasi. Bertanya apa nama bunganya tetapi aku lupa ibu itu menjawab apa. Pernak-pernik lain di toko itu lucu-lucu dan seperti aku sudah melihatnya sebelumnya.

Aku bertanya kembali, "Apakah disini menerima Dropship dan reseller?"

"Sepertinya belum, tidak. Soalnya ini cuma jumlah barangnya hanya beberapa disini."

"Berarti stoknya masih beberapa ya. Produk yang paling banyak dijual apa buk?"

Aku lupa dia menjawab apa. Setelah itu, badanku kedinginan lupa kalau disini daerah dingin. Penjual itu bersama seorang nenek-mungkin orangtua si penjual memberiku sesuatu untuk dimakan agar tidak kedinginan. Bentuknya seperti potongan-potongan kotak kayu coklat kehitaman, aku langsung makan dan lupa rasanya. Terlambat mereka bilang kalau itu harus dimakan dengan dibuat teh atau apalah itu aku lupa. 

Aku pergi ke toko sebelahnya lagi. Aku melihat manik-manik cincin gelang di toko itu. Bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti di toko sebelumnya.

Seorang yang tingkahnya seperti seorang teman dekatku tiba-tiba muncul sambil membawa tab lipat pecah, tapi masih dapat dinyalakan. Dalam hati kecilku senang, karena di kenyataan aku dan temanku yang satu ini sudah tidak pernah saling menyapa bahkan sekedar bertukar pesan chat padahal aku merindukannya karena terakhir bertemu kurang dari 3 bulan yang lalu.

Di toko ini ada seorang gadis cantik berambut lurus sepanjang lengan memakai cardigan mini putih sambil membawa laptop Apple. Dia menggores tampilan suatu citra dengan objek jalan menggunakan touch pen, entah kenapa aku langsung menyimpulkan dia bekerja untuk Google Map. Gadis itu mengiyakan dengan mengangguk dan tersenyum kecil. 

Aku ingin bertanya bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan pekerjaan seperti itu, tetapi teman dekatku yang membawa tab tadi melarang. "Jangan mengganggu seseorang yang sedang bekerja." Katanya.  Aku meminjam tab-nya dan mencari tahu di internet cara bekerja menjadi penunjuk jalan di Google Map, aku tertawa kecil bersama temanku itu merasa mencari sesuatu yang lucu di Internet.

----


Akhir-akhir ini aku sering overthinking memikirkan banyak hal. Dan sebagian besar yang menjadi bahan overthinking-ku terangkum dalam suatu cerita mimpi di siang bolong.  


Boyolali, 9 Januari 2022


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Plutoria #4: Pengingat Kalau Mau Bunuh Diri

About My Journey, My Journal

Plutoria #3: Dari Coretan Tak Terbaca Seorang Bocah