Plutoria #3: Dari Coretan Tak Terbaca Seorang Bocah

 

Mencoba menemukan kesadaran yang sesungguhnya dari tujuan kehadiran saya di dunia ini. Ada beberapa target yang berantakan. Berbagai desakan serta ekspestasi orang-orang. Saya memang tidak hidup untuk penilaian oranglain, tetapi mau tidak mau saya akan tetap hidup seperti itu karena memang kodratnya sebagai makhluk sosial yang memiliki berbagai rasa dan ego. 

Saya melihat coretan kalimat keponakan saya yang berantakan, tak dapat terbaca langsung jika tidak menelaah terlebih dahulu pola bentuknya. Kemudian saya mengingat kembali masa kecil dulu yang juga seperti itu, tetapi seiring berjalannya waktu dan lingkungan akhirnya tulisan saya juga bisa terbaca bahkan bisa lebih unik daripada tulisan milik oranglain.

Pada gambar bunga matahari yang di gambar oleh keponakan saya tersebut, dia menggambar lingkaran dengan cetakan pola dari penggaris. Padahal menggambar lingkaran untuk sebuah bunga sebenarnya juga tidak perlu bulat sempurna, justru hal tersebut akan terlihat kaku atau tak natural. Tetapi keponakan saya adalah seorang anak 6 tahunan yang belum paham apa itu seni menggambar yang artistik dan estetik atau apalah itu. Belum bisa sampai memikirkan hal tersebut karena masih mencoba pola dasarnya dahulu. 

Hingga kesimpulan yang ingin saya abadikan di rangkaian tulisan ini adalah jika menulis dan menggambar hal sederhana pun perlu belajar  sampai puluhan, ratusan kali atau bahkan tahunan, lalu kenapa saya bersedih jika harus terus masih merasa perlu banyak belajar menjadi manusia seutuhnya bahkan ketika sudah di umur kepala dua ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Plutoria #4: Pengingat Kalau Mau Bunuh Diri

About My Journey, My Journal