Interstellar #1 : Apakah aku sama seperti bulan?


    Pada sebuah ruang kamar tidur sempit, Plutoria terbangun karena mendengar alarm ponsel. Sengaja setiap hari menyetel alarm antara pukul 01.45 - 04.45 pagi dengan jeda setiap lima belas menit sekali karena dirinya susah bangun di kala subuh untuk mengerjakan tugas kuliah. Tetapi khusus untuk hari ini, ia gunakan waktu tersebut untuk keluar memburu teman-temannya yang bergelantungan di atas sana. Teman-teman dari dunia fana yang tak akan pernah ia gapai selama masih bernafas. Keberadaannya antara ada dan tiada.

     Baru terbangun seutuhnya saat pukul 04.00 pagi meskipun alarm telah berbunyi sejak dua jam yang lalu. "Sudah telat untuk mengulang materi yang akan aku pelajari sebagai bahan UAS nanti siang." batinnya. Masukkan saja biskuit dari toples sebelah kasur ke mulut untuk mengumpulkan kembali nyawa-nyawanya. Orangtuanya yang biasanya bangun lebih awal pun juga belum terlihat tanda-tandanya. Sepertinya ibu lembur karena terdapat notifikasi telepon tak terjawab sekitar pukul 12 malam tadi. "Maaf aku sudah tertidur dan paket kuotaku habis." sesalnya. 

     Pintu belakang rumah lantai dua milik kakak kandungnya terbuka. Entah telah mencapai angka berapa berat badannya, rasa pegal dan pusing langsung terasa ketika badannya mendaki tangga menuju lantai dua rumah ini.

 Aplikasi peta penunjuk letak posisi teman-temannya masih belum bisa dimanfaatkan sepenuh karena kuota habis, provider warna kuning oranye yang digunakan dalam ponsel ibunya juga tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan meskipun telah berada di lantai dua atau setidaknya di titik yang tidak terpencil dan terhalang objek-objek besar lain. Percuma meminta bantuan dari ponsel ibunya.

Bulan yang cantik. 
Sumber: dokumentasi pribadi.

        Bulan menyapa dari arah timur dengan sudut kemungkinan sekitar 45 - 60 derajat. Benar yang diumumkan portal berita astronomi itu jika akan ada fenomena saat seluruh planet terlihat sejajar, tapi sayangnya kamera burik tak mampu merekam planet-planet itu.  Sejauh mata memasuki, ternyata terdapat perbedaan hasil sudut pandang antara saat posisi di atas tanah seperti biasa dengan posisi disebut bangunan tinggi. Semakin ke atas, seolah-olah kubah langit bumi semakin terlihat. Bintang-bintang menempel pada kubah tersebut dengan lengkung khayal yang benar-benar nyata. Itulah mereka, teman-temannya yang menakjubkan.

Bulan yang cantik dan kubah langit bumi.
Sumber : Dokumentasi pribadi.

    "Akhir tahun ini aku banyak sekali menemukan banyak masalah dan pelajaran. Menatap bulan yang cantik rasanya aku ingin sekali melompat ke sana dan melupakan semua hal menyedihkan di bumi. Aku tahu bulan itu kosong, hampa, sepi, tak ada udara. Tapi kalau dipikir nasibku kok sedikit seperti bulan. Dari kejauhan nampak cantik dan tenang baik-baik saja tepi setelah didekati ternyata tidak seberapa indahnya dan bahkan hampa. Anggap saja sosial media itu adalah kubah atmosfer yang membiaskan kekuranganmu di mata manusia.  Jika manusia sepertiku ini tidak sepadan untuk disamakan dengan bulan, apakah ada material angkasa lain yang setidaknya layak dan memiliki cerita kehidupan yang sama sepertiku?" renungnya. 

    Apakah Plutoria bisa dikatakan tergolong planet ? bintang? satelit? atau apa ya? Namanya memang ada istilah "pluto"-nya, tapi dulu ia mengambil nama ini karena sebatas perasaan tak dianggap dan ditinggalkan yang dirinya rasakan. Sepertinya nama itu sudah tidak cocok lagi secara utuh. Sampai sekarang ia suka memakai julukan itu karena merasa cantik aja. 

       Jadi jawabannya lebih baik tunggu kabarku selanjutnya yaa... kabar terkait mikrokosmos apa yang sangat cocok untuk menggambarkan diriku. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Plutoria #4: Pengingat Kalau Mau Bunuh Diri

About My Journey, My Journal

Plutoria #3: Dari Coretan Tak Terbaca Seorang Bocah