Plutoria #1 : Kosong Tapi Terisi



Apakah teman-teman pernah merasakan suatu momen yang dapat membuat diri seakan hanya ingin diam merenung menikmati suasana sekitar? Sebenarnya momen terebut tidak ada yang spesial. Hari yang dilalui sama seperti pada hari lainnya. Orang-orang di sekitar juga beraktivitas seperti biasa. Tetapi mengapa di dalam diri pikiran kita seakan merasakan suatu atmosfer yang berbeda dari biasanya?

Tanpa ada stimulan tertentu, pikiran kita tiba-tiba memikirkan beberapa hal yang agak berbeda dari biasanya. Sesuatu yang berbeda tersebut tentu juga relatif berbeda untuk setiap diri manusia.

Memikirkan tentang sesuatu yang belum sempat terpikirkan di hari-hari normal tentang perjalanan kehidupan diri sendiri atau keluarga, atau bahkan permasalahan sosial politik negara. Memikirkan hal-hal tersebut sebenarnya mungkin terdengar wajar dan lumrah dalam manusia. Ada yang tidak terlalu ambil pusing dan mengabaikannya. Mungkin benar saja kalau Plutoria sendiri yang terlalu sentimen lebay menanggapi pikirannya.

Hari ini, merupakan sehari sebelum memasuki Ramadhan tahun 2021. Tidak ada yang spesial jika dilihat secara aktivitas keseharian. Tetapi pada hari ini entah mengapa setiap angin, udara, kebisingan yang lazim didengar kedua telinga seakan menyisipkan getaran aneh. Seakan mengajak pikiran untuk berkelana memaknai hal-hal kecil yang dikirimkan melalui vibrasi aneh yang ditangkap dengan panca indranya.

Belaian angin menyambut kulit dengan lembut dalam setiap gerak tubuh. Suara sepoi angin diluar sana yang menggoyangkan dedaunan menghasilkan gelombang suara kecil  menenangkan nan misterius. Berpadu dengan suara jangkrik, dengungan peralatan rumah (arus listrik kulkas, radio, pompa akuarium, dsb), serta pantulan suara mesin kendaraan di luar sana. Itu semua serasa memberikan suatu atmosfer berbeda dari hari biasanya.

Dari tanda-tanda kehidupan yang bersumber dari ponsel menambah kesan getaran aneh karena menemukan pesan dari teman baik semasa SD yang mengucapkan kata-kata menyambut Ramadhan. Berharap pikiran yang terasa kosong tapi terisi penuh oleh sesuatu yang aneh ini teralihkan pada soal bulan suci ini. Bulan yang membuat kerinduan yang menenangkan.

Hari ini seakan tersadar jika telah beberapa Ramadhan ia temui. Tergambar memori bulan-bulan Ramadhan yang lalu atau setiap momen lalu-lalu di otak. Waktu terus berjalan, banyak kesan-kesan suka dan duka yang sama-sama menggetarkan.

Dirinya tidak menyangka, telah berjalan sejauh ini...

Dalam setiap kegiatan-kegiatan yang dilakukan hari ini tiba-tiba terus mengingatkannya pada hal-hal yang telah lalu. Orang mungkin menganggap hal tersebut tidak jauh-jauh dari istilah Move On

Menurutnya, Move On terdengar ringan tapi berat untuk orang yang terlalu mendetailkan banyak pikiran dalam berbagai hal spele. "Aku tak tak tahu apakah orang-orang yang pernah datang dan pergi dalam perjalanan hidupku juga masih memikirkan keadaan yang telah lalu terutama yang berkaitan denganku. Tentu aku harap iya. Aku selalu setidaknya dalam beberapa detik memikirkan bagaiaman keadaannya sekarang. Baik mereka yang membekas kebahagiaan, kesedihan, atau bahkan kekosongan tanpa kesan apapun." pikirnya. 

Waktu adalah segalanya...

Waktu adalah obat. Waktu adalah penghambat. Waktu adalah penyelesaian. Waktu adalah pembuka dan penutup. Waktu seakan adalah salah satu tangan Tuhan untuk menatur manusia. Waktu adalah bagian / batasan. Waktu adalah perubahan. Waktu adalah dinamika yang relatif. Waktu berdampingan dengan momen. Termasuk momen yang  dirasakan yang dulu, lalu, kemarin, sekarang, besuk, esok, dan suatu hari nanti. 

Sampai huruf ini, dirinya terusik. Masih banyak rasa penuh yang ingin diutarakan. Tapi masih banyak juga rasa kosong dirasakan. Keduanya seakan berebut menguasai kepala dari suatu tempat yang tidak diketahui.

Baiklah, intinya adalah pernahkah anda merasakan kekosongan sekaligus rasa penuh dalam hati pikiran? Disaat merasakan hal tersebut kamu mulai sensitif terhadap berbagai stimulan sekitar yang biasa dan normal tapi setelah masuk dalam kepalamu seakan hal-hal biasa tersebut mulai bercabang beranak -pinak. Stimulan tersebut telah kamu anggap bukan sebuah stimulan lagi karena sudah terbiasa menghadapinya, tetapi disuatu waktu kamu tiba-tiba merasakan hal yang tak biasa dari stimulan yang sudah biasa dalam hidupmu tersebut. Oke baik, itulah yang Plutoria rasakan beberapa jam terakhir ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Plutoria #4: Pengingat Kalau Mau Bunuh Diri

About My Journey, My Journal

Plutoria #3: Dari Coretan Tak Terbaca Seorang Bocah